Setelah Sapardi Pergi
Buku sehimpun puisi ini tiba dirumah pagi tadi. Tepat di Hari Pahlawan 10 November.
Siapa yang tak kenal Sapardi? Bagiku pribadi, Sapardi adalah potret penyair
yang begitu mudah untuk dicintai. Hampir semua tulisannya yang pernah kubaca
selalu kuingat dengan baik. Untuk kamu yang berteman denganku di Instagram, pasti tahu sekali beberapa puisi Sapardi aku abadikan disana.
Kata orang, cinta adalah suatu perasaan yang tidak pernah
bisa engkau lupakan. Dan aku sebut cinta, atas kehikmatanku pada setiap baris
puisi Sapardi. Bahkan suamiku sendiri terheran atas cinta semacam ini. Seleraku
memang Sapardi sekali untuk puisi. Dan itu terlihat pada setiap tulisan
bernama puisi yang aku buat (menurut suami, bukan menurutku. Subjektif sekali
ya 😊) Tapi, mungkin kamu bisa menilai sendiri
saat membaca salah satu puisiku di buku ini.
Kepergian Sapardi untuk selamanya membawa duka bagi hampir semua
orang yang menyukai sastra, puisi khususnya. Dan buku ini dibuat untuk
mengenang Sapardi. Saat cinta tak harus diucap, mungkin itulah waktu saat cinta
harus ditulis.
Dan sudah tentu,
“Aku mengenangnya dalam tulisanku. Aku menuangkan semua
rindu dalam untaian kataku. Aku mencintainya sebanyak abjad dalam setiap torehan
tinta.”
******
Buku : Setelah Sapardi pergi (Sehimpun Puisi Tribute to
Sapardi Djoko Damono)
Penerbit : Diomedia
No ISBN : 978-623-7880-42-4
Cetakan Pertama, Oktober 2020

Komentar